“Gitar baru ya ? ” tanyamu tiba2.
” Engga, bukan. Senar baru. Baru kmaren beli yg kawat.
Udah lama pengen tau gimana jadinya kalo nilonnya diganti kawat” jawabku sigap.
“ow…boleh liat ?”
tanpa menunggu jawabanku, kau sekonyong-konyong duduk disebelahku dan mengambil gitarku dr pelukanku.
Gitar ini aku beli empat tahun yg lalu.
Gitar ini bukan gitar berkasta, bukan gitar mahal bermerk kelas dunia,
bukan ibanez, bukan pula whatsoever maxtone warna creme dengan frett bintang-bintang mengkilat,
yang beberapa tahun lalu aku lihat dipajang di display salah satu toko piranti alat musik,
yang beberapa tahun lalu pernah menghiasi khayalanku, satu saat aku akan memilikinya, mempelajarinya, dan memainkannya untuk diriku sendiri !!!
Dan hingga kini aku tidak tahu bagaimana rasanya ber-romantika dengan gitar-gitar mahal seperti itu.
Mungkin rasanya sebeda makan coklat *** dengan Ferrerro Roche ? atau sebeda minum segelas flat coffee dengan capucinno atau coffee latte di cafe ***
Well..whatever, I like chocholate and coffee anyway, whatever there is.
Gitar kayuku ini hanyalah gitar lokal, merakyat,
seperti kebanyakan gitar yg dimiliki manusia-manusia penyuara jalan
yang hampir setiap hari aku temui, hanya saja kondisinya lebih bersih dan lebih terawat.
Gitar yang biasa2 saja, sebiasa diriku.
Gitarku ini bermuka oranye tua, dengan sisi badan coklat tua.
Hingga sekarang masih tetap mengkilap berbalut pernis transparan.
Frett bar yang semula tak semengkilap mukanya,
kini terlihat agak modis dengan tampilan senar kawat baru.
Kau mulai mengutak-atik kawatnya,
memutar-mutar pin broken-white nya sambil memiringkan kepala ke kanan, ke arahku,
namun matamu terpejam, mencoba mencermati nada-nadanya.
” Done !” jawabmu lugas, tersenyum sendiri.
Kau mulai memainkan intro sebuah lagu yg familiar sekali untuk kita – atau setidaknya untukku.
Kaurengkuh erat gitarnya, memetiki kawat-kawatnya dengan khusyuk.
Ujung-ujung jarimu lincah melompat-lompat dari senar 1, ke 2, ke 3, ke 2, ke 5, kembali lagi seterusnya.
Dari frett ke-tiga, ke-dua lagi, ke-tiga lagi, ke-dua lagi, untuk kemudian mantap di frett ke-tiga.
“Talk to me softly..
there is something in your eyes..
don’t lay your head in sorrow..
and please don’t cry.. “
Aku hanya mendengarkan syair-syair itu kau lantunkan.
Rasanya aku tidak ingin ikut menyanyikannya, hanya mendengarkan,
ya..hanya mendengarkannya. Itu saja !!.
Entah kenapa rasanya aku mudah sekali menyukai lelaki yang pandai memainkan gitar.
It feels so cool for me.
Aku jadi ingat dulu – hingga kini masih – , aku selalu mengaggap Jon Bongiovi adalah cowok paling seksi sedunia, dan lagu “always” adalah lagu paling romantis sekaligus paling pilu seumur hidup
Pijar,
kalau saja aku bisa,
ingin rasanya aku tanyakan padamu “apakah lagu itu tentang aku? “
agar terjawab tanya dan harap yang selama lebih dari tiga tahun ini memenuhi kepalaku.
“Lho, kok fals ? nggak bener nih nyetemnya” katamu membuyarkan lamunanku.
Kau kembali sibuk membungkuk-bungkukkan punggung,
memejamkan mata dan mendekatkan telinga ke senar2nya.
“Eh..udah bener setelannya.” katamu – nyengir -
“Jadi yg fals apanya dong ?” jawabku sambil tertawa
Pijar,
kalau saja aku bisa,
ingin rasanya aku kirimkan tulisan pendek ini kepadamu,
agustus 2007
May 17, 2008 at 5:03 am
dan kalau ini bukan tulisan yang bukan karangan, sampaikan saja pada pijar.. kenapa ga bisa?
May 19, 2008 at 2:34 am
Salam
Hmm memendam tanya dan harap selama tiga tahun pasti melelahkan, ungkapkan saja karena tak mudah membaca hati.
May 29, 2008 at 10:49 am
wahhh…gitarnya dicintai sepenuh hatii
andai gitar bisa bicara ?!!
August 6, 2008 at 9:22 am
[...] nggak minat nonton tipi, dan mata juga pegel nggak mo diajak baca, akhirnya aku ke kamar, mencomot gitar oranyeku yang teronggok manis di atas tempat tidur [...]