layang-layang

Minggu sore…wuaa…lumayan libur kerja, Alhamdulillah bisa santai di rumah :) .

Sore itu aku lagi tenguk-tenguk ( duduk-duduk santai) di teras, ngobrol-ngobrol sama mama. Nggak cuman berdua ding, aku sama mama ditemeni juga sama Si Manis yang nggak mau ketinggalan ikutan nimbrung ( kali sambil jual tampang, siapa tau ada kucing betina lewat, kan bisa dikecengin :D )

Lagi tengah-tengahnya ngobrol ngalor-ngidul, tiba-tiba segerombolan anak-anak berlarian, bercoetan gaduh , telunjuk-telunjuknya nuding (menunjuk) ke atas, mata melotot-lotot, wajahnya kileng-kileng kena panas, dan BURRRRR……. lari lagi …

Duinngg !!! spontan aku melongok ke atas juga, lihat ke langit.

Ternyata oh ternyata…layangan-layangan berkibar-kibar.

Dulu waktu aku masih SD, aku dan teman-teman sebaya di kampung selalu mengidentikkan musim liburan sekolah dengan musim mainan layangan (bermain layang-layang). 

Dan sepertinya identifikasi ala anak SD ini juga diamini secara (lumayan) massal, buktinya momentum seperti ini dijabani dengan menjamurnya para pembuat layangan musiman.

Aku  masih ingat untuk satu layangan sederhana berbentuk belah ketupat dari bahan kertas minyak dengan ragangan (rangka) bambu yang diserut-serut, dijual dengan harga ‘hanya’ duaratus rupiah.

Dengan uang saku sehari yang rata-rata duaribu rupiah, harga layangan terasa ‘murah’ waktu itu.

Padahal dalam sehari bisa membeli layangan satu biji, itu sudah hal yang bagus.
Seringnya sih layangan putus dan sobek bisa sampai tiga biji.
Belum lagi kalo ternyata sudah terlanjur beli layangan, ternyata nggak bisa mumbul, alias nyungsep terus .

Orang-orang dewasa waktu itu  bilang desainnya kurang atau enggak aerodinamik ( halah…yang denger waktu itu cuman bengong, aerodinamik ? boso opo kuwi ? ) , gamblangnya mungkin pembuatnya menyancang ragangannya (mengikat rangkanya) kurang pass.
Kadang terlalu tinggi, kadang terlalu ke tengah, atau mungkin juga karena kertasnya terlalu berat, lipatan pinggirnya renggang, atau terlalu lebar (ooo….kalo yang ini ‘agak’ ngeh )

Ini pula yang menyebabkan tabungan sisa uang saku harian jadi ludes dengan cepatnya. Tapi bagi aku dan teman-teman waktu itu, semua hal itu rasanya worthed saja dilakukan, dengan imbalan kesenangan dan kepuasan yang didapatkan.

Yang tidak terlupakan adalah ketika mengejar layangan yang putus.
Di tempatku tinggal dulu, layangan putus dinamakan ‘layangan gimbul’ .

Dulu begitu melihat layangan gimbul, sontak tanpa dikomando, aku dan teman-teman langsung ramai-ramai nguber (mengejar) layangan gimbul.

Dengan semangat tinggi dan antusias ( atau bisa dibilang ngotot) berlarian kesana kemari, memfokuskan pandangan ke layangannya, memprediksi kemana layangan itu bakal jatuh.
Kadang kalo layangannya jatuh di genteng, sampai harus naik-naik pagar rumah orang (sampai pemilik rumah marah-marah :D ) , bahkan kadang sampai harus panjat-panjat pohon mangga bila kebetulan layangannya nyangsang di salah satu cabangnya.

Tapi kalau ……..

( pic : gettyimages )

bersambung