Semalam……..
kubuka kembali lemari kayu tua di ujung kamarku.
Kuambil segulung kertas usang didalamnya,
kubuka gulungannya,
sebuah peta terbentang di kertasnya yang sekarang tak lagi wangi,
peta tentang aku dan kamu yang kugambar entah berapa waktu yang lalu,
ada noktah hitam dipinggir peta itu,
sebuah noktah yang mulanya hanya sebuah titik kecil ,
entah sudah berapa kali aku menimpali titik itu,
masih dan masih tetap di titik itu,
terus dan terus hingga dia menjadi noktah hitam pekat.
titik sebuah perjalanan, yang bahkan belum aku mulai.
Semalam…..
kulihat jejak-jejak langkah berwarna merah,
jejak langkahmu yang telah begitu jauuh menapaki konstelasi peta itu,
kau telah melangkah begitu cepat,
terlampau cepat seakan tak menapaki tanah,
entah kenapa demikian aku sendiri tak tahu,
mungkin di waktu terdahulu,
di malam-malam rahasia,
kau diam-diam telah merapal mantra-mantra sakti Saint Seiya,
mendapatkan sayap-sayap pegasusnya,
dan dengan sayap-sayap itu kau terbang,
melesat dengan cepattt !!!
Sedangkan aku…
aku masih disini,
berdiri di atas kaki yang mulai dekil diliputi debu,
yang mulai terasa letih oleh waktu, perjalanan dan harapan.
Para pujangga berkata,
orang yang jatuh cinta ibarat penggembala bintang-bintang,
Dan malam ini kesekian kalinya aku bertanya
“jika kita menyembah Tuhan yang sama,
mengapa begitu sulit kita bersama ?”
Beberapa pesan singkat yang datar kau balas,
beberapa telepon yang hambar kau jawab,
Semalam…..
telah kutetapkan langkahku,
aku akan tetap di sini,
aku tak akan mengejarmu lagi,
aku hanya akan duduk di sini,
menyanyikan lagu-lagu cinta dan rindu,
satu saat kelak, bila kau lelah dengan perjalananmu,
kau bisa beristirahat di sini,
untuk sekedar duduk,
atau menyanyikan lagu sendu,
satu saat nanti, bila kau lupa irama dan syairnya,
aku akan menyanyikan bait-bait lagunya untukmu,
Semalam,
kugulung kembali peta usangku,
kuletakkan petaku ke dalam lemari kayu di ujung kamarku.
(pic by johnhorrigan ; kata2 bercetak miring diambil dari novel karya Anif Sirsaeba berjudul “dibawah naungan cinta”)

June 9, 2008 at 2:44 pm
jadi inget saint saiya… seperti pegasus… hihihi..
salam kenal
June 9, 2008 at 2:49 pm
wah ngebacanya seperti digendam
, puisi yang bagus. bener2 berbakat mbakyu satu ini, makan2 donk
June 9, 2008 at 3:32 pm
waduh gak ngerti artinya tuh
June 9, 2008 at 3:56 pm
sini sini jeng….
**nyiapin bahu**
Been there (still there I guess) but I’m not that good with words so I hope *a big huge hugz* could help dear ^^
June 9, 2008 at 7:26 pm
wah ada pujangga to disini… angkatan berapa Mbak?
June 9, 2008 at 8:02 pm
inget cover bukunya tujuh musim setahunnya clara ng dan sedih sekali karena ilang
punya ga bu? saya beli boleh?
June 10, 2008 at 8:45 am
kyk nya ini puisi bwat pijar lg deh
*kabuuurr
June 10, 2008 at 11:44 am
Aku mah pingin naik kuda pegasus nya, ada gak ya, hehehehe
June 12, 2008 at 2:25 pm
salam
*nyambung ga Ngga*
Mungkin pershabatan memang lebih baik dari cintaa
June 13, 2008 at 7:03 pm
wedeww…
jinggabell
bikin kan satu buat ku donk!!!
*aku juga tak akan mengejarmu*
betull jingga!! santai aja….capek..pek…cepek
biarkan segalanya mengalir seperti air
suatu hari kau kan bisa melihat siapa diriku sebenarnya
saat kau buka pintu hatimu dan melihat starlight di mataku
Peacee!!!
June 18, 2008 at 1:45 pm
Let it flow, babeh…
*pijit2 jingga, sambil mikir puisi ituh berulang kali*